dscn79501-300x225.jpgDesa Glempang sebenarnya telah membuka kios desa beberapa bulan yang lalu, dan para penyewa kios pun sudah memulai berjualan, namun demikian di rasa ada yang kurang oleh Sitam Sudiarjo(62), “ kayong urung marem nek urung de tanggapna ebeg “ ujar Sitam Sudiarjo, maka dia berinisiatif dengan beberapa penyewa kios untuk mengadakan pagelaran Seni Kuda Lumping di halaman kios desa, sebagai bentuk rasa terima kasih kepada Pemerintah Desa karena telah di buatkan tempat usaha/tempat jualan, dan sekaligus promosi  kepada masyarakat sekitar,tentang keberadaan Kios Desa Glempang yang baru. Sitam Sudiarjo adalah salah satu dari penyewa Kios Desa Glempang, yang sekaligus menjadi ketua Panitia Pagelaran Seni Kuda Lumping di halaman Kios Desa Glempang pada Minggu(30/10) kemarin.

Kios Desa Glempang terletak di sebelah utara jalan raya Ajibarang-Glempang, tepatnya di sebelah timur SDN 1 Glempang.Kios Desa yang berdiri di atas tanah desa seluas kurang lebih 300 meter persegi. kios yang baru di bangun tahun 2015  dengan dana desa yang mempunyai 7 kios atau bisa menampung 7 pedagang. Dari ke tujuh kios tersebut semuanya telah di sewakan ke warga masyarakat Desa Glempang dengan sistim lelang, mengingat banyaknya pendaftar yang akan berjualan di kios tersebut.

Sebelum di bangun kios desa tanah tersebut di gunakan sebagai Balai Desa Glempang, yang sekarang telah pindah ke sebelah utara jalan Desa Glempang, tepat di samping lapangan sepak bola. Sejak kepindahan Balai Desa tahun 2007, tanah desa tersebut tidak di manfaatkan secara maksimal. Seperti di katakan Marwan Jafar Menteri Desa,Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) “ Desa dapat menggunakan dana desa untuk mendirikan pasar desa/kios desa. Di harapkan dengan di bukanya kios Desa akan membantu perekonomian warga serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Glempang.

Pentingnya ajakan kepada masyarakat untuk kembali berbelanja di warung tetangga atau berbelanja di kios desa, mengingat untuk menyambung silaturahmi,warga dengan dialog antar pembeli dan penjual serta tawar menawar barang dagangan.. Hal itu merupakan bentuk kearifan lokal saling menghargai, budaya musyawarah yang nantinya akan memperkuat perekonomian masyarakat Desa Glempang tentunya. (Bapiek).